MURAPEDIA.COM, MUSI RAWAS – Udara siang itu terasa teduh. Di bawah naungan atap Masjid Taqwa Kelurahan Muara Beliti dan Masjid Jami’ Q2 Wonorejo Kecamatan Tugumulyo, ratusan jamaah berkumpul menunaikan ibadah Salat Jumat, 7 Agustus 2026. Namun, ada yang tak biasa pada mimbar Jumat kali ini.
Atas petunjuk dan arahan Kapolres Musi Rawas, AKBP Agung Adhitya Prananta, S.H., S.I.K., M.H., jajaran Polres Musi Rawas menginisiasi program pembinaan keagamaan yang memadukan syiar Islam dengan ajakan menjaga kelestarian lingkungan serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Di balik mimbar, dua personel Polres Musi Rawas IPTU Alamsa dan AIPDA Samsul, S.H., M.H. berdiri membawa amanah khutbah. Mereka menyampaikan firman Tuhan dan teladan Nabi untuk menyentuh nurani jamaah agar tak lagi merusak bumi tempat kita berpijak.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam : Teladan Sejati Pecinta Alam
Di Masjid Taqwa, suara IPTU Alamsa membendung kesunyian jamaah. Mengangkat tema “Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Negarawan yang Peduli Lingkungan”, ia mengajak jamaah menyelami kembali jejak Sang Nabi.
“Manusia diciptakan sebagai khalifah pemimpin dan pengelola di muka bumi,” tutur IPTU Alamsa lembut namun tegas. “Bumi ini adalah amanah Allah Subhanahu wa ta’ala. Menjaga kelestariannya bukanlah pilihan, melainkan bentuk ibadah dan bukti ketakwaan kita.”

Beliau mengutip ayat suci Al-Qur’an (QS. Al-A’raf: 56) yang melarang keras manusia berbuat kerusakan di bumi setelah Allah membaikannya. Tak lupa, kisah manis Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang keutamaan menanam pohon kembali dihidupkan: bahwa setiap helai daun yang tumbuh dan setiap buah yang dimakan makhluk hidup dari pohon yang kita tanam, bernilai sedekah jariyah yang tak putus pahalanya.
Kerusakan Alam: Cermin Kelalaian Kita
Sementara itu, di Masjid Jami’ Q2 Wonorejo, AIPDA Samsul menyentuh sisi emosional jamaah melalui tema “Menjaga Kelestarian dan Keseimbangan Alam”. Beliau mengingatkan betapa seringnya bencana alam termasuk kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) lahir dari jemari manusia yang lalai dan serakah.
Melalui firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Surah Ar-Rum ayat 41, AIPDA Samsul mengingatkan bahwa telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.
“Bumi tidak pernah meminta banyak dari kita. Ia hanya ingin dikasihi sebagaimana ia menyuplai udara segar untuk paru-paru kita dan air bersih untuk kehidupan anak-cucu kita,” bisik ajakannya.
Pembakaran hutan dan lahan, lanjutnya, bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi tindakan yang merampas hak hidup makhluk lain dan menabur asap duka bagi kesehatan ribuan jiwa yang tak berdosa.
Menjaga Bumi sebagai Bentuk Ibadah
Pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah siang itu meresap dalam keheningan masjid. Pokok-pokok ajakan yang disampaikan antara lain:
1. Menjaga Lingkungan adalah Bagian dari Iman: Memelihara alam merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
2. Setop Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Melakukan pembakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga membahayakan kesehatan dan masa depan anak-cucu kita.
3. Satu Pohon, Kebaikan Tanpa Batas: Menanam pohon dan menghemat penggunaan air adalah amal saleh sederhana yang berdampak besar bagi keseimbangan bumi.
Sinergi Polri dan Masyarakat untuk Musi Rawas yang Hijau
Melalui pendekatan spiritual yang menyentuh hati ini, Polres Musi Rawas berharap masyarakat tidak hanya takut pada sanksi hukum saat hendak merusak alam, tetapi lebih dari itu: takut kepada Allah dan merasa malu jika merusak ciptaan-Nya.
Kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan penuh kekhusyukan. Senyum serta tatapan haru para jamaah menjadi bukti bahwa ketika ajakan kebaikan disampaikan dari hati, ia akan sampai ke hati.
Bumi ini adalah satu-satunya rumah yang kita miliki. Jika bukan kita yang merawatnya hari ini, warisan indah apa yang tersisa untuk buah hati kita esok hari? Mari kita jaga alam, agar alam menjaga kita..













